banner 728x250
Wacana  

Tautologi, Proporsi Dan Realitas

Didi Sugandi, Mentor Inovasi Nasional
banner 120x600
banner 468x60

Tautologi itu sesuatu yang lucu funny (?????):

“Dalam logika matematika, tautologi (dari bahasa Yunani: ταυτολογία) adalah rumus atau pernyataan yang benar dalam setiap interpretasi yang mungkin. Contohnya adalah “x=y atau x≠y”. Demikian pula, “bolanya hijau, atau bolanya tidak hijau” selalu benar, terlepas dari warna bolanya.”

banner 325x300

Paragraf tadi terjemahan dari English (bahasa Inggris):

“In mathematical logic, a tautology is formula or assertion that is true in every possible interpretation. An example is “x=y or x≠y”. Similalrly, “either the ball is green, or the ball is not green” is always true, regardless of the colour of the ball.” (https://en.wikipedia.org/wiki/Tautology_(logic))

ebagai pernyataan (alias assertion) “Saya membunuh si A” dan atau “Saya tidak membunuh si A” kedua-duanya benar, terlepas dari kenyataannya : apa pun realitasnya. (Kita bisa menyaksikan komplikasi dari kejadian semacam ini di media massa akhir-akhir ini, banyak)

Logika (logic) seharusnya–dari awalnya, sejak semula–memang hanya untuk memeriksa bahasa yang kita pergunakan untuk berpikir atau menyatakan–membuat pernyataan tentang–sesuatu, bukan atau tidak untuk memeriksa kebenaran/ketidakbenaran realitas (dunia). Seorang cybernetician bernama Heinz von Foerster bahkan sampai mengatakan bahwasanya logika (logic) sebenarnya bukan alat yang baik untuk menjelaskan sebab-akibat atau kausalitas (“cause and effect“) di dunia nyata yang terjadi atau berlangsung di luar pikiran kita. Kalau mengikuti apa yang pernah dikatakan oleh Karl Popper (1902-1994), kita hanya bisa mengatakan “p = q” jika dan hanya jika memang benar-benar ada dalam realitas bahwasanya p = q.

Tapi di dalam sejarah perkembangan ilmu logika (logic) –saking ngoyonya para logician, — logika (logic) telah dibawa/diseret untuk menjelaskan dunia (realitas); Max Weber (1864-1920) bilang bahkan ketika logik mulai digunakan sebagai metodologi ilmiah untuk menjelaskan realitas–ia menceraikan pikiran (thought) dari bahasa (language) kita, dan kita kemudian bahkan tidak lagi berpikir; Memang banyak bukti mudah ditemukan bagi sebuah pernyataan seperti: “You are not thinking, you’re just being logic“.

Para logician bahkan membangun satu cabang ilmu logika bernama “propotional logic” (logika proposisional) dan kemudian muncul turunannya: “propotional calculus” (kalkulus proposisional), dst.–menekankan kata “proposisional”, untuk bisa berkelit dari tuduhan/sangkaan (conviction) : mereka menekankan bahwasanya mereka tidak mencoba menjelaskan dunia atau realitas (reality) namun hanya sekedar menjelaskan kalimat-kalimat (sentences). “Well, nice try Ferguso“.

Mereka para logicians –beberapa saja, tidak semuanya–mungkin sadar betul tentang itu, tapi orang awam mah pasti pusing membedakannya. Ditambah dengan “amplifikasi” oleh teknologi informasi dan komunikasi jaman kiwari (kontemporer), orang awam malah makin tidak mudah lagi membedakan mana tautologi, mana proposisi (kalimat) dan mana kenyataan (realitas atau fakta).

Namun betapapun, menyangkut soal bagaimana tautologi bisa ditransformasikan menjadi proposisi yang mampu menjelaskan tentang sesuatu kausalitas di dunia nyata– “Wich can tell us anything about causation in the real world” –tetap saja ada syaratnya, karena: unsur empiris dalam pernyataan (proposisi) — satu-satunya unsur yang bukan saja berkaitan dengan “implikasi” (di benak kita) namun juga dengan “sebab dan akibat” (di dunia nyata) dan oleh karenanya memungkinkan untuk membawa kita menuju ke sebuah kesimpulan yang–pada prinsipnya, bisa diverifikasi–ditemukan kebenarannya–atau difalsifikasi–ditemukan kekeliruannya–seperti kata Karl Popper–terdiri dari proposisi-proposisi yang berkaitan dengan ikhwal bagaimana pengetahuan diperoleh (akuisisi pengetahuan); Ini adalah problem umum tentang bagaimana pengetahuan diperoleh (acquired) dan dikomunikasikan (communicated).

  1. Apakah itu dari sebuah fiksi (tautologi, proposisi) di benak kita sendiri yang tidak pernah terhubung samasekali dengan dunia nyata (realitas) atau …. ?
  2. Bagaimana itu dikomunikasikan (diceriterakan, dinyatakan) –misalnya kepada hakim, kepada publik, kepada pembaca, kepada diri sendiri? dll dsb

Bahan bacaan :

  • Friedrich A. Hayek, Economics and Knowledge https://mises.org/library/economics-and-knowledge
  • Tautology (logic) https://en.wikipedia.org/wiki/Tautology_(logic)

Wacana ini ditulis oleh Didi Sugandi, mentor inovasi nasional.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

54 − = 45

%d blogger menyukai ini: